Monday, 25 November 2013

TweetThis Button

Hello (Again) World!

Diposkan oleh Unknown di 01:54 0 komentar
Well, I promised myself to write on my blog only in English since my previous post. And thank you for supporting and correcting me *big big hugs*

And now I promise myself to constantly writing at least one article one day. Whatever the topic is. What may come across my mind, I'll blog it. But not about my personal life, neither about my private problems nor my household matters.

Ugh, it's always like this. When I have ideas or something 'brilliant' to write and really in the mood to do it, I'm always far apart from my notebook. Whether I'm somewhere or doing something I can't leave or postpone. But like now, when I'm definitely with my notebook, I feel like dying to write. Ideas and stories just like 'poof!' and disappear! I did the the biggest lie on earth, I always convince myself like 'okay, I don't need to write it, I remember it clearly' when I have ideas or anything to post on to my blog. Gee!

So it's enough for now. Cya tomorrow! Lol 〜( ̄▽ ̄〜)(〜 ̄▽ ̄)〜

Sunday, 17 November 2013

TweetThis Button

Move Towards What I'm Afraid The Most

Diposkan oleh Unknown di 02:25 0 komentar
Well, it's been ages since my last post *cleans up the cobweb*. No reasons required. I was sooo frikkin lazy all this time. I enjoyed my time being a silent reader. I have nothing to write. No. Actually, I wish my laptop could type what's on my mind without saying it lol.

Idk, at first I planned to write my post(s) in English. But then I felt so discouraged. I hae no confidence to write in English. I've read many articles of my friends that written in English and their English was marvelous! Reminds me of the time I took my IELTS test last year, I've got lowest mark on writing test, 4.0. Gee! And the highest mark was on speaking and listening tests, 8.0.

I never took an English course before. I just learn it from movies, songs, books, and brochure xD. Maybe it could be one of reasons why I feel like having inferiority complex. I'm afraid of using bad grammar when writing. Idk, I feel when I'm speaking the grammar just flows smoothly through my mouth. But when it comes to writing, like this post, it sure take ages just to choose the right words, check the spelling, and correct the grammar (though I'm not quite sure what I wrote is correct).

Yep, I know there's no excuse for it. As nowadays many free podcast and tutorials how to write in English well. Okay okay, I was so damn lazy! But since I've read many of Indonesian blogger write their posts in English, it keeps motivating me to start to writing, writing, and writing in English. I even couldn't sleep for these past three days figuring it out. I have to write something, or even anything, that can be understood by people around the world. It's cool if we can communicate and understand others who come from different countries and have different languages with English. English unites us! xD

Well, what I'm trying to say is, I need you to correct my article if there's any typo or misspelled, and if the way I choose the words is way too rude, etc.I'd be very happy with mind wide opened to take on it. And I myself, will also do my best to learn writing in English well and develop my writing skill. I'll move towards what I used to be afraid of. Writing. In English. I prefer British English by the way :). I just need to be motivated, not more. Because you guys, whoever you are out there that writing articles in English, are totally inspiring and encourage me the most! Because in my opinion, you are awesome! Really.

I'm about to enroll to an English course soon. I've browsed the sites, have come to the offices and asked the officers directly, and have taken lotsa brochures home. But still considering which institute I should choose according to my financial circumstances :p. Any suggestion? :)

Cheers ^^

Monday, 3 June 2013

TweetThis Button

Karena Kamu, Bagian Diriku.

Diposkan oleh Unknown di 01:46 0 komentar


Sehabis menyeruput segelas kopi hangat di tengah malam, tanpa sengaja saya melihat sebuah kotak merah di dalam lemari adik saya. Saya buka kotak itu. Tertegun sejenak melihat isinya. Banyak carikan kertas dimana didalamnya terdapat tulisan tangan Almarhum Ayah saya. Setumpuk kartu identitas dan kartu belanja juga ada di sana. Yang membuat saya terhenti sejenak adalah sebuah amplop. Di atasnya terdapat tulisan “Tiket Pulang”. Saya hafal benar, itu tulisan adik saya. Tentu saja di dalamnya ada uang. Tidak banyak.
Bukan, bukan soal uang itu yang ingin saya bicarakan. Jujur, saya menuliskan ini sambil menangis. Campur aduk yang saya rasakan. Yang ingin saya bicarakan disini adalah si pemilik uang dalam amplop itu. Ya, adik laki-laki saya. 

Adik saya itu orang yang suka menyimpan. Menyimpan harta dan emosinya. Hemat dan teliti dalam mengelola uang. Sulit juga menebak kepribadiannya. Bagi orang yang belum kenal dekat dengannya, mungkin adik saya ini terkesan dingin dan cuek dengan sekelilingnya. Tapi percayalah, ketika kita mengenalnya lebih dalam, dia ini lelaki berhati lembut dan hangat. Dia sangat mencintai keluarganya.
Salah satunya saya, yang merasakan hangat dan lembut hatinya. Sebagai kakak, harusnya saya memberi contoh teladan baginya. Harusnya saya bisa diandalkan oleh adik-adik dan orangtua saya. Tetapi, saya merasakan sebaliknya. Adik saya yang menjadi panutan untuk saya. Saya merasakan, bagaimana saya telah mengecewakannya berkali-kali dengan keputusan dan tindakan saya selama ini. Saya sering membuatnya marah dan ‘mengorbankan’ kebahagiaannya akibat keputusan gegabah yang saya ambil.

Teringat, sewaktu ia kecil, saya sering memarahinya. Saya merasa saya tidak pantas dipanggil kakak. Ia lebih banyak mengalah untuk saya, padahal usia kami terpaut 4 tahun. Sikap saya padanya dulu sangat tidak pantas. Saya tidak pernah mengayomi dan membimbingnya. Bahkan tak jarang saya tak peduli padanya ketika ia sakit, terkena musibah, atau bahkan ketia ia bermasalah dengan teman-teman sepermainannya. Saya sering merebut apa yang telah menjadi miliknya. Tak jarang juga saya memukulnya. Bahkan dulu saya tidak pernah mengizinkannya sekedar bersandar di pundak saya ketika ia lelah dan mengantuk. Paling ekstrim, dulu sewaktu saya kesal padanya (padahal kalau dipikir-pikir, itu salah saya), saya malah berharap tidak memiliki adik atau dengan kata lain mengharapkan dia tidak pernah ada di dunia ini.

As time goes by, saya memahami banyak hal. Mata saya terbuka lebar. Saya belajar mencintai, berbagi, menghargai, dan tau apa itu balas budi. Saya belajar banyak dari adik saya ini. Sedikitpun ia tidak mendendam pada saya. Tidak. Bahkan, yang saya rasakan adalah, cintanya begitu besar untuk saya. Saya sering tidak pernah ada untuknya, tapi ia selalu ada untuk saya. Ia tumbuh jauh lebih dewasa dan kuat dibandingkan saya. Ia melindungi saya. Setelah semua yang saya lakukan padanya. Bahkan sampai saat usia saya yang beranjak 23 tahun ini, pun, saya masih membuatnya kecewa. Lantas, apa dia marah? Tidak. Begitu sabarnya ia akan sikap saya.

Ingin rasanya malam ini saya pergi menemuinya, memeluknya, menciumnya, berterima kasih padanya, dan meminta maaf sebesar-besarnya. Sejak Papa kami pergi menghadap Sang Khaliq, ialah yang menjadi wali saya. Wali dunia-akhirat. Adik saya banyak menginspirasi saya. Dia idola ketiga saya setelah Rasulullah dan Ayah saya. Dia laki-laki luar biasa. Hebat.

Maafkan aku, Dek. Aku belum bisa mempersembahkan yang terbaik untukmu. Maafkan aku, yang masih saja mengecewakanmu, merepotkanmu, membuatmu marah dan sedih. Maafkan aku, yang gagal menjadi contoh yang baik untukmu. Ketahuilah, kekuatan cintamu lah, yang membuat aku berubah. Aku banyak belajar darimu. Aku bangga padamu. Terimakasih, untuk segala yang kamu berikan padaku. Aku banyak berhutang padamu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku padamu, dan ridho akan pertemuan kita di JannahNya kelak. Kamu bagian dari diriku, kamu  salah satu sumber kekuatanku, kamu inspirasiku. Tanpa kamu, entah bagaimana hidupku ini. 

Ketika aku tidak menjadi tanggungjawabmu lagi, tetap tegur dan ingatkan aku apabila aku salah. Aku tau, suatu saat kamu akan menanggungjawabi wanita lain selain aku, ibu, dan adik perempuan kita. Walaupun begitu, aku ingin kita selalu dekat. Aku ingin memperbaiki kesalahanku terdahulu padamu. Belum terlambat, kan, kalau aku ingin berubah? Aku banyak berhutang padamu, adikku Sayang. Dan terimakasih, kamu masih menjadi pendengar yang baik untukku, disaat aku tak memiliki sesiapa lagi untuk bercerita.

Semoga Allah melindungimu, dimanapun kamu berada. Dan semoga Ia senantiasa memudahkan langkahmu dalam kebaikan. Hanya doa yang dapat kuberikan sekarang. 

Aku sayang padamu, Muhammad Adhe Putra. Selamanya.




Medan, 03 Juni 2013, 01:27 pagi.
Sambil menikmati rintik hujan dan udara dingin di atas tempat tidur.


Friday, 4 January 2013

TweetThis Button

How Korean Wave Affected Me (1)

Diposkan oleh Unknown di 01:57 0 komentar
Hai haiiii~ Gw kembali lagi nih. Aseli lah bbrp minggu kemaren gw lg males-malesnya nulis. Jangan ditiru, ya. Padahal jelas2 gw tempel di dinding, per hari nulis satu artikel di blog gw. Intinya, gw ga disiplin.

Langsung aja. Gw mau berbagi cerita, belakangan ini gw kena sindrom ketagihan Running Man (RM). RM itu variety show dari Korea. Lucu, parah! Sila googling sendiri yaa apa itu RM. Muehehe.

Jadi, almost 2 minggu ini tontonan wajib gw adalah RM ini. Ga ada hari tanpa RM. Dulu sempat gw berhenti nonton dan download variety show ini. Tapi entah kenapa sekarang gw rajin lagi ngedownload ini. Ya, itung2 melepas stres. Ya intinya, tiap gw nonton RM, kadar ketegangan saraf gw menurun.

Lo bayangin aja deh, gw 2 minggu 'makanannya' itu mulu. Otomatis, gw kepengaruh. Iya, gw mulai maruk (lagi) sama yang namanya makanan korea, dan karena itu juga gw sering googling artis2 korea yang jadi guest star di tiap episod RM ini. Sampe akhirnya, malem ini, tepat disaat gw mau bikin tulisan ini, gw tersentak. Berapa jam waktuyg udah gw habiskan demi googling fakta2 artis korea, budaya korea, manajemen2 artis korea, dll ini? Dari situ gw istighfar... Padahal kan dulu gw udah sempat ninggalin ini semua T_T

Ada beberapa kesimpulan yang gw dapet dari artikel2 yg gw baca tentang Korean Wave. All the K-things ini dikemasnya ciamik pisan! Liat aja, tiap videoklip k-pop, k-drama, dan sejenisnya. Outfit yang dipake artisnya bagus2, mukanya juga pada bagus, kulitnya mulus2, bodinya juga maknyus2. Para manajemen dan team tidak segan-segan bekerja 30 jam sehari (iya, saking jor-jorannya) demi hasil yang sempurna. K-things ini akhirnya pun sukses meraih hati jutaan manusia di seluruh dunia sampai mengalahkan Western things, makanya disebut Korean Wave. Sudah pasti, biaya produksinya pun sangat tinggi. Ini bakal gw bahas di episod 2 yak :p

Karena kemasan yang ciamik dan perfect (menurut gw) itulah, banyak org yang akhirnya 'tenggelam' terbawa hanyutan gelombang itu. Biasanya, yang gw amati, ekspektasi orang2 yang mengidolakan k-things itu ketinggian dan ga sesuai realita. 85% bisa gw bilang imajiner. Bahkan gw dulu sempat merasakannya. Gw maruk sama kata2 'Oppan', dan kosakata lainnya dalam bahasa korea. Iya, gw dulu tenggelam sama apa yang gw lihat. Gw bahkan sempat mati-matian dieat dan beli produk perawatan kulit biar penampilan gw sama ky mereka, langsing dan mulus. Gila? Memang! Dan tiada hari tanpa joget2 ga jelas diiringi lagu K-pop. Geez! Ya, udah pada tau lah ya, gimana perfectnya K-things ini di layar kaca. Walopun mereka almost semuanya operasi plastik dan ga natural, tetap aja dibilang perfect oleh kebanyakan orang.

Apalagi K-drama! Sukses bikin para cewe2 dan sebagian kecil cowo, hidup dalam dunia imajinasi dan tenggelam dalam fantasi, ketinggian ekspektasi! Ga terkecuali gw dulu. Gw sampe ngoleksi beberapa foto artis korea yang cakep2 dan 'innocent' dalam cerita drama. Kebanyakan nonton K-drama, saat itu gw ngerasa hidup itu ya sekedar cinta-cintaan, makanan, dan gimana caranya dapet duit banyak biar penampilan gw bisa sempurna ky mereka! Dan gilanya lagi, gw menganggap cowo yang di K-drama yg digambarkan 'innocent' dan romantis itu adalah perfect dan patut dijadikan pasangan hidup. Gw juga pernah jatuh cinta hanya karena liat cowo2 korea itu joget2 di video klipnya dan menganggap mereka itu extremely awesome. Padahal mah biasa aja. Silly me! -.-

Singkat cerita, gw kenalan lah sama cewe korea, Yvette namanya. Akhirnya kita sering komunikasi, dan jadilah gw sama dia sahabatan sekarang. Kita sering tukar pikiran. Dan gw tentunya ga lupa nanyain tentang fakta2 korea dan ngobrolin Korean Wave ini sama dia. Dia ini orangnya realistis, dan suka baca. Pengetahuannya luas. Kalo penilaian gw, dia ini bukan tipe Korean girls in common. She's different! Dia banyak cerita tentang fakta2 korea yang disembunyikan media. Dan kenapa, dia sendiri ga suka sama K-drama dan K-pop. Padahal dia sendiri co-worker MBLAQ sebagai pemain cello dan contrabass.

Nah, berhubung gw udah ngantuk berat, disambung besok yaa. Gw bakal share apa isi percakapan gw dan Yvette dan beberapa kesimpulan yang gw dapatkan setelah mengamati dan menganalisis (gaya wooooyy) all about K-things. Kalo disambung sekarang bisa aja, cuma ntar bahasanya bakal ngalor-ngidul dan tulisan gw jadi kepanjangan. Yang ada, pada eneg bacanya. -.-

Tulisan ini gw buat semata2 untuk berbagi pengalaman pribadi, kalo bisa jadi sarana menasehati ya Alhamdulillah. Kalo ngga, yaudah bawa kalem aja toh. No offense, ya, untuk para fans kokoreaan ini. Okesip. Gw tidur dlu yak. Cya, folks! ^^


Love,
@listysoesilo
 

Listiy's Blog © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor