Monday, 3 June 2013

TweetThis Button

Karena Kamu, Bagian Diriku.

Diposkan oleh Unknown di 01:46


Sehabis menyeruput segelas kopi hangat di tengah malam, tanpa sengaja saya melihat sebuah kotak merah di dalam lemari adik saya. Saya buka kotak itu. Tertegun sejenak melihat isinya. Banyak carikan kertas dimana didalamnya terdapat tulisan tangan Almarhum Ayah saya. Setumpuk kartu identitas dan kartu belanja juga ada di sana. Yang membuat saya terhenti sejenak adalah sebuah amplop. Di atasnya terdapat tulisan “Tiket Pulang”. Saya hafal benar, itu tulisan adik saya. Tentu saja di dalamnya ada uang. Tidak banyak.
Bukan, bukan soal uang itu yang ingin saya bicarakan. Jujur, saya menuliskan ini sambil menangis. Campur aduk yang saya rasakan. Yang ingin saya bicarakan disini adalah si pemilik uang dalam amplop itu. Ya, adik laki-laki saya. 

Adik saya itu orang yang suka menyimpan. Menyimpan harta dan emosinya. Hemat dan teliti dalam mengelola uang. Sulit juga menebak kepribadiannya. Bagi orang yang belum kenal dekat dengannya, mungkin adik saya ini terkesan dingin dan cuek dengan sekelilingnya. Tapi percayalah, ketika kita mengenalnya lebih dalam, dia ini lelaki berhati lembut dan hangat. Dia sangat mencintai keluarganya.
Salah satunya saya, yang merasakan hangat dan lembut hatinya. Sebagai kakak, harusnya saya memberi contoh teladan baginya. Harusnya saya bisa diandalkan oleh adik-adik dan orangtua saya. Tetapi, saya merasakan sebaliknya. Adik saya yang menjadi panutan untuk saya. Saya merasakan, bagaimana saya telah mengecewakannya berkali-kali dengan keputusan dan tindakan saya selama ini. Saya sering membuatnya marah dan ‘mengorbankan’ kebahagiaannya akibat keputusan gegabah yang saya ambil.

Teringat, sewaktu ia kecil, saya sering memarahinya. Saya merasa saya tidak pantas dipanggil kakak. Ia lebih banyak mengalah untuk saya, padahal usia kami terpaut 4 tahun. Sikap saya padanya dulu sangat tidak pantas. Saya tidak pernah mengayomi dan membimbingnya. Bahkan tak jarang saya tak peduli padanya ketika ia sakit, terkena musibah, atau bahkan ketia ia bermasalah dengan teman-teman sepermainannya. Saya sering merebut apa yang telah menjadi miliknya. Tak jarang juga saya memukulnya. Bahkan dulu saya tidak pernah mengizinkannya sekedar bersandar di pundak saya ketika ia lelah dan mengantuk. Paling ekstrim, dulu sewaktu saya kesal padanya (padahal kalau dipikir-pikir, itu salah saya), saya malah berharap tidak memiliki adik atau dengan kata lain mengharapkan dia tidak pernah ada di dunia ini.

As time goes by, saya memahami banyak hal. Mata saya terbuka lebar. Saya belajar mencintai, berbagi, menghargai, dan tau apa itu balas budi. Saya belajar banyak dari adik saya ini. Sedikitpun ia tidak mendendam pada saya. Tidak. Bahkan, yang saya rasakan adalah, cintanya begitu besar untuk saya. Saya sering tidak pernah ada untuknya, tapi ia selalu ada untuk saya. Ia tumbuh jauh lebih dewasa dan kuat dibandingkan saya. Ia melindungi saya. Setelah semua yang saya lakukan padanya. Bahkan sampai saat usia saya yang beranjak 23 tahun ini, pun, saya masih membuatnya kecewa. Lantas, apa dia marah? Tidak. Begitu sabarnya ia akan sikap saya.

Ingin rasanya malam ini saya pergi menemuinya, memeluknya, menciumnya, berterima kasih padanya, dan meminta maaf sebesar-besarnya. Sejak Papa kami pergi menghadap Sang Khaliq, ialah yang menjadi wali saya. Wali dunia-akhirat. Adik saya banyak menginspirasi saya. Dia idola ketiga saya setelah Rasulullah dan Ayah saya. Dia laki-laki luar biasa. Hebat.

Maafkan aku, Dek. Aku belum bisa mempersembahkan yang terbaik untukmu. Maafkan aku, yang masih saja mengecewakanmu, merepotkanmu, membuatmu marah dan sedih. Maafkan aku, yang gagal menjadi contoh yang baik untukmu. Ketahuilah, kekuatan cintamu lah, yang membuat aku berubah. Aku banyak belajar darimu. Aku bangga padamu. Terimakasih, untuk segala yang kamu berikan padaku. Aku banyak berhutang padamu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku padamu, dan ridho akan pertemuan kita di JannahNya kelak. Kamu bagian dari diriku, kamu  salah satu sumber kekuatanku, kamu inspirasiku. Tanpa kamu, entah bagaimana hidupku ini. 

Ketika aku tidak menjadi tanggungjawabmu lagi, tetap tegur dan ingatkan aku apabila aku salah. Aku tau, suatu saat kamu akan menanggungjawabi wanita lain selain aku, ibu, dan adik perempuan kita. Walaupun begitu, aku ingin kita selalu dekat. Aku ingin memperbaiki kesalahanku terdahulu padamu. Belum terlambat, kan, kalau aku ingin berubah? Aku banyak berhutang padamu, adikku Sayang. Dan terimakasih, kamu masih menjadi pendengar yang baik untukku, disaat aku tak memiliki sesiapa lagi untuk bercerita.

Semoga Allah melindungimu, dimanapun kamu berada. Dan semoga Ia senantiasa memudahkan langkahmu dalam kebaikan. Hanya doa yang dapat kuberikan sekarang. 

Aku sayang padamu, Muhammad Adhe Putra. Selamanya.




Medan, 03 Juni 2013, 01:27 pagi.
Sambil menikmati rintik hujan dan udara dingin di atas tempat tidur.


0 komentar:

Post a Comment

Note: only a member of this blog may post a comment.

 

Listiy's Blog © 2010 Web Design by Ipietoon Blogger Template and Home Design and Decor