Okay, singkatya kemarin nih si Chibi pup di sapu kosan. Temen sekosan gw manggil dan nyuruh bersihin itu sapu. Cuma karena gw lagi sibuk, gw bilang 'iya ntar gw bersihin', dan emang akhirnya gw bersihin. Berlangsunglah 'sidang' itu. Akhirnya 'muntah' tuh mereka-mereka tentang gw. Sampe soal tulisan saya yang minta bayar uang gas yang saya tempel di pintu dapur kosan, dll. Semua lah.
Tadinya saya menerima banget uneg-uneg mereka dan sepintas menyesal ternyata selama ini saya tanpa sengaja mendzolimi saudara-saudara saya di kosan ini. Tapi setelah mereka menyampaikan dengan bahasa yang, kalau kata saya, tidak berpendidikan, saya jadi pengen nangis! Sedih rasanya, sekaliber mahasiswa menyampaikan sesuatu dengan bahasa yg tidak lebih baik daripada orang yang tidak berpendidikan sekalipun. MAHASISWA, loh! Tonggak perubahan bangsa! Tapi ya bicara aja masih kurang santun.
Saya akui saya salah, tapi saya ga suka dengan 'intimidasi terselubung' dibalik kalimat-kalimat yang diucapkan. Kesannya seperti memojokkan. Saya bisa membaca, ada kepuasan pribadinya apabila ia berhasil memojokkan orang yang bersalah. Untuk kepentingan mereka, mereka sampaikan dalil-dalil Islam. Tapi gitu saya sampaikan 'kepentingan' saya, mereka membantahnya! Bahkan sampai detik ini himbauan saya tidak diindahkan. Saat saya tanya solusi yg baik dengan cara baik-baik, malah jawaban dangkal yang saya terima; "ya itu urusan lo. Mana gw tau. Lo pikirin sendiri lah!", begitu kira-kira jawaban yang saya dapatkan. Dangkal, kan? Sangat disayangkan!
Well, the things is, saya dulu seperti mereka. Saya akui. Saya dulu arogan, suka menatap orang dengan tatapan mengintimidasi, tidak mau mendengar, dan nyolot. Saya juga dulu seperti mereka. Merasa bangga dengan kehidupan 'modern', life-style yg hedon dan seperti orang kebanyakan, dan terlalu blak-blakan sampai tidak memikirkan perasaan lawan bicara saya akibat lisan yang saya lontarkan.
Saya dulu senang memamerkan aurat pada yang bukan mahram saya, kepada semua orang. Terlibat pergaulan yang diharamkan dalam Islam. Ya, itulah saya dulu. Saya melihat cerminan diri saya yang dulu ada pada mereka. "Ternyata begini, ya, saya dulu", batin saya dalam hati. Ya, menyakitkan! Menyakitkan ketika diingatkan dalam kebaikan namun dengan kata-kata yang tidak hasan. Menyakitkan, berbicara sambil melihat aurat terbuka kemana-mana. Menyakitkan rasanya diintimidasi dan diinterupsi. Oh, begini rasanya. Sakit.. Sakit.. Bahkan air mata ini tak berhenti mengalir sampai tengah malam.
Singkatnya, saya berfikir ada saja cara Allah menegur hambaNya. Mulai dari memberi kenikmatan sampai kepahitan. Hanya orang-orang berakal jernih yang bisa mengambil hikmahnya. Setelah selesai dengan mereka, saya menangis di kamar, sendiri. Saya banyak merenung. Satu sisi saya menangisi diri sendiri karena banyak mendzolimi orang dengan sikap saya yang dulu. Disatu sisi lain saya sedih dengan mereka. Mereka itu ummat Nabi Muhammad, tapi lisan, pola sikap, dan pola hidupnya jauh dari Islam. Saya tidak menjudge mereka. Tapi, hey, ayolah, semua juga tau kok bagaimana seharusnya seorang yang bertuhankan Allah dan mengakui Muhammad Saw sebagai RasulNya seharusnya bersikap dan menjalani hidupnya.
Terimakasih, Allah. Engkau mengeluarkanku dari jalan yang dulu ku kira menyenangkan. Kau keluarkan aku dari alam kegelapan, yang kusangka dahulu itu adalah jalan yang terang-benderang. Kau bukakan mata, hati, telinga, dan akal ini untuk menerima ayat-ayatMu, sementara aku lihat orang-orang disekitarku terus melakukan penyanggahan kalamMu dan dibutakan oleh nafsu. Terimakasih, ya Allah, Kau guru terbaikku. Kau berikan aku pelajaran berharga dibalik senang dan sedihku. Terimakasih, ya Allah, I'M OUT of that way, that wrong way to reach the real happiness.
Dari sini saya belajar, seorang Muslim yang jauh dari agamanya, akan rusak TOTAL. Ya, TOTAL! Standar hidupnya tidak jelas, aturan hidupnya semau gue, dan gampang labil emosinya. Karena saya dulu pun seperti itu, makanya saya berani komentar. Sikap saya dahulu jauh dari kata menyenangkan. Lama 'bertelur' dalam dunia hitam. Bahkan sempat menjadi seorang deisme atau lebih dikenal dengan istilah agnostic. Ketika saya jauh dari agama saya, perlahan tapi pasti, keimanan mulai terkikis. Ketika saya menjadi seorang deisme, saya berpendapat bodoh sekali orang-orang di dunia ini yang percaya agama dan dibutakan oleh false faith. Tapi Alhamdulillah, I'M OUT OF THAT WAY, too! Ah, masalah ini akan saya bahas di postingan berikutnya.
Intinya, ketika kita mengingatkan orang dalam kebaikan, siapapun dia, gunakanlah lisan yang baik. Karena lisan jauh lebih tajam dibandingkan belati dan paku. Siapapun lawan bicara kita, pikir matang-matang dan pertimbangkan perasaannya jika kita menggunakan kata-kata yang terlalu nyablak, apalagi sarkas. Saya pun masih belajar untuk menjaga lisan. Saya pun bukan manusia sempurna. Saya masih sering berbuat kesalahan. Saya bisa klaim diri saya sudah lebih dekat pada Allah dibandingkan saya yang dulu, bukan dibandingkan orang lain. Saya bukan cenayang yang bisa membaca isi fikiran seseorang dan mampu menebak isi hatinya. Apabila saya ada salah, tegur saya. Jangan biasakan membicarakan dibelakang. Bicarakan face-to-face, kalau memang merasa manusia berakal.
Love,
@listysoesilo


0 komentar:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.