Gw berniat untuk berhenti kuliah dengan alasan birokrasi dan sebagainya. Gw ngerasa hopeless dengan kuliah sekarang, ditambah lagi "tekanan" mental karena melihat banyak teman-teman gw yang udah pada lulus. Well, honestly I envy you guys! Gw akui deh itu. Siapa sih yg ga pengen make toga, apalagi kalo udah jadi mahasiswa tingkat akhir.
Nah, waktu gw berniat untuk berhenti kuliah (lagi), akhirnya nyokap angkat bicara. Selama ini doski diem-diem aja dan nurutin apa kemauan gw. Mungkin karena beliau sadar kalo gw orangnya rada keras. Apa yg gw mau, harus ada, dan gw harus dapet gimanapun caranya. Nah, mungkin nyokap gw udah nyesek nyimpen uneg-unegnya, akhirnya beliau angkat bicara. Beliau utarakan kekecewaannya sama gw. Termasuk keputusan gw yg katanya egois.
...gw terhenyak!
Bener mungkin. Selama ini gw hanya bertindak sesuai kemauan gw. Gw sadar, sampe matipun gw pasti nyusahin orang. Pasti ada yg bakal gw seret ke dalam masalah gw. Dan salah satunya adalah keluarga gw sendiri. Gw termenung....
Mungkin iya, selama ini gw terlalu banyak bicara...
Gw berfikir, kalo gw mewujudkan (yg katanya) impian gw itu, gw bakal bisa bahagiakan orang-orang yang gw sayang. Tp HEY! Itu bukan impian gw. Itu kemauan gw!! Itu ambisi gw. Gw memang terlalu egois selama ini. Banyak pihak yg gw seret dalam masalah pemuasan ambisi gw. Keluarga, saudara, teman, bahkan orang yg baru gw kenal. Holy sh*t! Kenapa sih dengan diri gw ini? Setan apa yg merasuki pikiran gw?
Gw tertipu dengan apa yg gw lihat. Gw bercermin pada kehidupan orang lain. Saat itulah Mama, wanita luar biasa ini, mengingatkan gw. Menyadarkan gw. Membangunkan gw dari tidur yang panjang, dari mimpi dan angan-angan semu.
"...cobalah, nak. Dengarkan apa kata orang-orang di sekelilingmu. Wujudkan impian-impian kami juga, bukan hanya impianmu. Kami disini pun berjuang untukmu..."
GLEK! Benar, memang. Gw TIDAK MENDENGAR!! Gw tuli dan buta dengan ambisi gw. Gw lupa, ada orang-orang yg berjuang di belakang gw, menyokong gw dan siap sedia ketika gw jatuh. Impian mereka cuma satu, liat gw pake toga! Segitunya ternyata nilai toga itu. Ya, karena gw pun merantau ke Pulau Jawa ini dengan perjuangan keras dan melalui berbagai rintangan dan hambatan. Lebay? Gw rasa ngga. Karena gw yg ngerasain dan melalui semua proses itu.
kazoku. they are my strong will, my mood booster, my strength
Saat itulah, revolusi kehidupan gw dimulai. Gw mulai memungut kembali serpihan-serpihan solusi kehidupan gw. Gw menata kembali rencana hidup gw. Kali ini beda, dengan IMPIAN, bukan sekedar kemauan. Dan si Toga ini juga menjadi impian dan harapan Almarhum Papa gw. Beliau dengan segala keterbatasannya, mengantarkan gw sampai ke titik ini. Sedikit lagi saya sampai puncak. Mendaki itu sulit memang, tapi ketika sudah mencapai puncak, gw yakin ada baaaaaanyak sekali keindahan yg bisa gw lihat.
Dan gw katakan pada wanita hebat itu, "Ma, pegang janjiku. Aku luluskan kuliah ini. Aku tata kembali hidupku yang telah kurusak sendiri. Aku wujudkan impianmu. Mama ingin aku S-2 ke Eropa kan? Aku wujudkan! Karena kita sama-sama tahu, gelar S-2 itu demi sebuah misi mewujudkan janji seorang Rasul. Agar lisanku diperhatikan orang-orang berpengaruh dan akupun bisa mempengaruhi mereka. Aku, Listiy Prichasari Soesilo binti Hery Noviar, berkomitmen untuk mewujudkan impianmu, Ma!"
Dari sini gw belajar, menjadi pendengar tidak semudah mengucapkannya.
when you're listening, you'll learn something
love,
@listysoesilo



0 komentar:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.