Lemah, tak mampu berujar dan melihat,
Namun ku tahu kau mendengar
Hampir empat bulan lamanya,
Kau diam
Kau tak merespon
Kau menahan sakit
Namun kau bisa mendengar dan tak mengeluh!!
Izinkan aku menangis
Aku lelah
Aku tak ingin lagi berpura-pura kuat
Aku tak tahan lagi menyembunyikan
Mengingatmu begitu, sungguh menyakitkan! Teramat menyakitkan!
Ayah,
Andaikan waktu itu sakitmu bisa kugantikan
Andaikan aku di posisimu
Aku rela menggantikanmu
Berbagilah denganku, jangan egois!
Sekarang kau pergi
Dulu kau berjanji padaku untuk menghadiri wisudaku
Mana? Kenapa tidak kau penuhi janjimu?
Dulu kau bilang, kau akan tinggal bersamaku
Mana? Aku sendiri disini, Yah!
Tidak tebendung lagi bulir-bulir bening ini
Aku merindukanmu dalam setiap sujudku padaNya
Aku ingin bersimpuh di kakimu memohon ampun
Aku ingin memelukmu dan berterimakasih
Aku ingin sekaliiii saja, mencium tanganmu dan meminta restumu
Bagiku, engkau lelaki terhebat kedua setelah Rasulullaah
Cintamu tulus menguatkanku, memapahku ketika aku jatuh
Cintamu yang kau sembunyikan, namun aku bisa merasakannya
Pengorbananmu tanpa lelah demi aku, anak yang selalu menyusahkanmu
Sering kau menangis dalam kesendirianmu karena kenakalanku
Do'amu, pelukanmu, ciumanmu, marahmu, nasihatmu, semua masih membekas mantap diingatanku
Maafkan aku, Ayah
Belum sempat ku bahagiakanmu di dunia
Namun saksikanlah, Yah
Aku menjadi penyelamat dan pembahagiamu di akhirat
Aku bertahan sampai waktuku habis
Aku tahu, ketika aku berdosa di sini, kau yang akan dihantam palu raksasa di sana
Teruslah mengingatku, Yah. Aku pun disini mengingatmu selalu
Semoga Ar-Rahman mempertemukan kita di SyurgaNya kelak
...bersama, melepas penat dan rindu...
Hery Noviar bin Nasrullah, 3 Februari 1961 - 19 April 2012


0 komentar:
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.