Sehabis menyeruput segelas kopi hangat di tengah malam,
tanpa sengaja saya melihat sebuah kotak merah di dalam lemari adik saya. Saya buka
kotak itu. Tertegun sejenak melihat isinya. Banyak carikan kertas dimana
didalamnya terdapat tulisan tangan Almarhum Ayah saya. Setumpuk kartu identitas
dan kartu belanja juga ada di sana. Yang membuat saya terhenti sejenak adalah
sebuah amplop. Di atasnya terdapat tulisan “Tiket Pulang”. Saya hafal benar,
itu tulisan adik saya. Tentu saja di dalamnya ada uang. Tidak banyak.
Bukan, bukan soal uang itu yang ingin saya bicarakan. Jujur,
saya menuliskan ini sambil menangis. Campur aduk yang saya rasakan. Yang ingin
saya bicarakan disini adalah si pemilik uang dalam amplop itu. Ya, adik
laki-laki saya.
Adik saya itu orang yang suka menyimpan. Menyimpan harta dan
emosinya. Hemat dan teliti dalam mengelola uang. Sulit juga menebak
kepribadiannya. Bagi orang yang belum kenal dekat dengannya, mungkin adik saya
ini terkesan dingin dan cuek dengan sekelilingnya. Tapi percayalah, ketika kita
mengenalnya lebih dalam, dia ini lelaki berhati lembut dan hangat. Dia sangat
mencintai keluarganya.
Salah satunya saya, yang merasakan hangat dan lembut
hatinya. Sebagai kakak, harusnya saya memberi contoh teladan baginya. Harusnya saya
bisa diandalkan oleh adik-adik dan orangtua saya. Tetapi, saya merasakan sebaliknya.
Adik saya yang menjadi panutan untuk saya. Saya merasakan, bagaimana saya telah
mengecewakannya berkali-kali dengan keputusan dan tindakan saya selama ini. Saya
sering membuatnya marah dan ‘mengorbankan’ kebahagiaannya akibat keputusan
gegabah yang saya ambil.
Teringat, sewaktu ia kecil, saya sering memarahinya. Saya
merasa saya tidak pantas dipanggil kakak. Ia lebih banyak mengalah untuk saya,
padahal usia kami terpaut 4 tahun. Sikap saya padanya dulu sangat tidak pantas.
Saya tidak pernah mengayomi dan membimbingnya. Bahkan tak jarang saya tak
peduli padanya ketika ia sakit, terkena musibah, atau bahkan ketia ia
bermasalah dengan teman-teman sepermainannya. Saya sering merebut apa yang
telah menjadi miliknya. Tak jarang juga saya memukulnya. Bahkan dulu saya tidak
pernah mengizinkannya sekedar bersandar di pundak saya ketika ia lelah dan
mengantuk. Paling ekstrim, dulu sewaktu saya kesal padanya (padahal kalau
dipikir-pikir, itu salah saya), saya malah berharap tidak memiliki adik atau
dengan kata lain mengharapkan dia tidak pernah ada di dunia ini.
As time goes by,
saya memahami banyak hal. Mata saya terbuka lebar. Saya belajar mencintai,
berbagi, menghargai, dan tau apa itu balas budi. Saya belajar banyak dari adik
saya ini. Sedikitpun ia tidak mendendam pada saya. Tidak. Bahkan, yang saya
rasakan adalah, cintanya begitu besar untuk saya. Saya sering tidak pernah ada
untuknya, tapi ia selalu ada untuk saya. Ia tumbuh jauh lebih dewasa dan kuat
dibandingkan saya. Ia melindungi saya. Setelah semua yang saya lakukan padanya.
Bahkan sampai saat usia saya yang beranjak 23 tahun ini, pun, saya masih
membuatnya kecewa. Lantas, apa dia marah? Tidak. Begitu sabarnya ia akan sikap
saya.
Ingin rasanya malam ini saya pergi menemuinya, memeluknya,
menciumnya, berterima kasih padanya, dan meminta maaf sebesar-besarnya. Sejak
Papa kami pergi menghadap Sang Khaliq, ialah yang menjadi wali saya. Wali
dunia-akhirat. Adik saya banyak menginspirasi saya. Dia idola ketiga saya
setelah Rasulullah dan Ayah saya. Dia laki-laki luar biasa. Hebat.
Maafkan aku, Dek. Aku belum bisa mempersembahkan yang
terbaik untukmu. Maafkan aku, yang masih saja mengecewakanmu, merepotkanmu,
membuatmu marah dan sedih. Maafkan aku, yang gagal menjadi contoh yang baik
untukmu. Ketahuilah, kekuatan cintamu lah, yang membuat aku berubah. Aku banyak
belajar darimu. Aku bangga padamu. Terimakasih, untuk segala yang kamu berikan
padaku. Aku banyak berhutang padamu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosaku
padamu, dan ridho akan pertemuan kita di JannahNya kelak. Kamu bagian dari
diriku, kamu salah satu sumber
kekuatanku, kamu inspirasiku. Tanpa kamu, entah bagaimana hidupku ini.
Ketika aku tidak menjadi tanggungjawabmu lagi, tetap tegur
dan ingatkan aku apabila aku salah. Aku tau, suatu saat kamu akan
menanggungjawabi wanita lain selain aku, ibu, dan adik perempuan kita. Walaupun
begitu, aku ingin kita selalu dekat. Aku ingin memperbaiki kesalahanku
terdahulu padamu. Belum terlambat, kan, kalau aku ingin berubah? Aku banyak
berhutang padamu, adikku Sayang. Dan terimakasih, kamu masih menjadi pendengar
yang baik untukku, disaat aku tak memiliki sesiapa lagi untuk bercerita.
Semoga Allah melindungimu, dimanapun kamu berada. Dan semoga
Ia senantiasa memudahkan langkahmu dalam kebaikan. Hanya doa yang dapat
kuberikan sekarang.
Aku sayang
padamu, Muhammad Adhe Putra. Selamanya.
![]() |
Medan, 03 Juni 2013, 01:27 pagi.
Sambil menikmati rintik hujan dan udara dingin
di atas tempat tidur.

